0

Euro berhasil rebound setelah sempat babak belur karena gejolak di Italia di saat masalah di Yunani belum tuntas. Namun, situasi di kedua negara itu membaik, meski masih penuh ketidakpastian.
Pasar membaik setelah Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi menarik tuntutan menggelar pemilu. Pasar juga menyambut baik hasil lelang surat utang jangka pendek Italia yang mendapat tawaran besar, mengurangi kecemasan soal prospek fiskal negara itu. Laporan menyebutkan Italia berhasil menjual 5 miliar euro obligasi bertenor 12 bulan dengan tingkat bunga di 6,087%, level yang tidak menakutkan.
Ditambah dengan turunnya yield obligasi Italia karena spekulasi ECB gencar membeli. Selain itu, muncul spekulasi mantan komisioner Eropa Mario Monti sebagai pengganti Berlusconi dalam beberapa hari dan memimpin pemerintahan darurat. Isu ini mengurangi gejolak di pasar. Yield obligasi 10 tahun Italia turun 28 bps ke 6,85%.
Di Yunani, para pemimpin sepakat untuk menunjuk perdana menteri baru dan mengangkat mantan wakil presiden ECB Lucas Papademos sebagai kepala pemerintahan interim, mengakhiri ketidakpastian politik. Penunjukkan Papademos disambut oleh ekonom yang menganggapnya pilihan tepat untuk melaksanakan keputusan berat terkait pengetatan dan mengurangi utang.
Euro berusaha meraih kembali level $1,36. Euro juga terangkat setelah S&P memastikan rating Perancis tetap di AAA, mengurangi keresahan di pasar. Rating negara itu memang sempat diisukan terancam.
Perkembangan positif ini memang baik, penting untuk sentimen pasar yang sedang jatuh. Tapi, itu belum cukup untuk menghilangkan keresahan di pasar. Perkembangan ini kemungkinan hanya menjadi pereda sementara, karena masalah belum sepenuhnya tuntas. Gejolak politik memang mereda di Yunani dan Italia, tapi kedua negara itu masih punya banyak PR, yaitu melaksanakan pengetatan dan menyelesaikan utang. Prosesnya pasti terjal, dan inilah faktor yang akan selalu membayangi euro.
Sebagai ekonomi terbesar ketiga Eropa, dan utang yang sebesar itu, Italia, tidak seperti Yunani, dianggap terlalu besar untuk gagal (too big to fail). Di sisi lain, negara itu juga terlalu besar untuk dibantu (too big to bail). Utang Italia adalah yangt terbesar kedua di Eropa dan keempat di dunia. Tahun depan, lebih dari 300 miliar euro utangnya jatuh tempo.
Meski intervensi ECB terlihat efektif dalam jangka panjang, pertanyaannya kini adalah apakah ECB bisa secara kredibel menjaga yield Italia tidak kembali tembus ke 7%. Yunani, Irlandia dan Portugal terpaksa minta bailout setelah yield mencapai level itu. Pasar takut bila sampai Italia default, Uni Eropa tidak akan sanggup untuk membailoutnya, dan akhirnya memberikan efek domino ke sistem finansial global.

Posting Komentar

 
Top