Prof. Dr. Nouriel Roubini peramal kiamat Lehman Brothers? Warga negara Amerika Serikat keturunan Turki-Yahudi Mengatakan, China memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan India dan Indonesia bila dihadapkan dengan perkembangan kondisi global saat ini karena konsumsi domestiknya hanya 30% dari GDP. Jadi pada waktu perekonomian Amerika dan Eropa melemah, maka penjualan produk-produk China pun akan ikut lesu.
Selain itu Roubini memperkirakan, public debt China saat ini sudah mencapai 80% dari GDP. Ini sangat mengejutkan karena menurut data resmi pemerintah China, public debt hanya sekitar 18% dari GDP. Bayangkan jika asumsi Roubini benar dan kredit macet masyarakat China makin membengkak. Sistem perbankan di China pun akan gonjang-ganjing. Selain itu, Roubini melihat China dalam 30 tahun terakhir menggenjot investasi yang berlebihan dalam pembangunan fisiknya sehingga kapasitas sektor swasta, termasuk di sektor properti sangat berlebih. Itu berarti, produksi China lebih besar daripada permintaan sehingga tidak akan terserap oleh pasar domestiknya.
Roubini melihat ekonomi China terlalu bergantung pada pasar ekspor. Ekspor tentu bagus bagi suatu negara, tapi jika ekspor sudah terlalu besar tentu membahayakan jika ekonomi negara-negara tujuan ekspor utama, seperti Eropa dan AS, sedang bermasalah. China, saat ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi kawasan Asia, bahkan dunia. Bayangkan jika ekonomi China juga mulai goyah. “Hard landing akan buruk bagi China dan juga untuk emerging market,” tambah Roubini.
Selain itu Roubini memperkirakan, public debt China saat ini sudah mencapai 80% dari GDP. Ini sangat mengejutkan karena menurut data resmi pemerintah China, public debt hanya sekitar 18% dari GDP. Bayangkan jika asumsi Roubini benar dan kredit macet masyarakat China makin membengkak. Sistem perbankan di China pun akan gonjang-ganjing. Selain itu, Roubini melihat China dalam 30 tahun terakhir menggenjot investasi yang berlebihan dalam pembangunan fisiknya sehingga kapasitas sektor swasta, termasuk di sektor properti sangat berlebih. Itu berarti, produksi China lebih besar daripada permintaan sehingga tidak akan terserap oleh pasar domestiknya.
Roubini melihat ekonomi China terlalu bergantung pada pasar ekspor. Ekspor tentu bagus bagi suatu negara, tapi jika ekspor sudah terlalu besar tentu membahayakan jika ekonomi negara-negara tujuan ekspor utama, seperti Eropa dan AS, sedang bermasalah. China, saat ini menjadi motor pertumbuhan ekonomi kawasan Asia, bahkan dunia. Bayangkan jika ekonomi China juga mulai goyah. “Hard landing akan buruk bagi China dan juga untuk emerging market,” tambah Roubini.
Posting Komentar